SEMARANG, jurnalberita.co.id – Gelombang protes warga Jawa Tengah kini memasuki babak baru yang mencekam. Dipicu oleh seruan masif aksi “Stop Bayar Pajak” yang viral di media sosial, jajaran Polda Jawa Tengah dilaporkan mulai kehilangan ketenangan. Aksi pembangkangan sipil ini membuat Kapolda Jateng menginstruksikan langkah ekstrem guna menekan kerugian negara yang kian membengkak.
​Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, aparat kepolisian dari Polda Jateng dikabarkan melakukan manuver mendadak dengan mengerahkan personel dalam jumlah besar ke kantong-kantong publik, terutama area parkir swalayan dan pusat perbelanjaan.
​Bukan sekadar patroli biasa, petugas melakukan pengecekan paksa terhadap kelengkapan surat kendaraan dan bukti bayar pajak di tempat. Kendaraan yang terdeteksi menunggak pajak langsung “dikepung”, memicu ketegangan hebat antara pemilik kendaraan dan petugas di lapangan.

BACA JUGA : Bentrok Oknum TNI-Polri di Mappi, Dua Personel Kepolisian Terluka
​Kericuhan pecah di salah satu swalayan besar di Semarang saat sejumlah pengunjung melakukan perlawanan sengit. Mereka menolak kendaraannya diperiksa secara paksa di area privat swalayan, yang dianggap bukan wewenang kepolisian untuk melakukan penagihan pajak secara intimidatif.
​”Ini sudah kelewatan! Kami bayar parkir, kami belanja pakai uang kami sendiri, tapi kenapa diperlakukan seperti buronan? Rasanya kami seperti dijajah di negeri sendiri hanya karena urusan pajak!” teriak salah satu pengunjung yang terlibat adu mulut dengan petugas.
​Sikap panik aparat ini dinilai banyak pihak sebagai bukti bahwa gerakan “Stop Bayar Pajak” telah memukul telak kestabilan birokrasi di Jawa Tengah. Pihak kepolisian bersikeras bahwa tindakan ini adalah upaya menegakkan aturan pemerintah, namun di mata masyarakat, langkah ini dianggap sebagai bentuk represi ekonomi.
​Hingga berita ini diturunkan, situasi di beberapa titik keramaian di Jawa Tengah masih terpantau tegang. Personel berseragam lengkap masih terlihat berjaga-jaga di gerbang keluar parkiran, sementara gelombang penolakan warga justru semakin menguat di jagat maya.
Penulis : Hafid Ramadan
Editor : Red JB




























