INTERNASIONAL, jurnalberita.co.id – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan memberikan tenggat waktu 10 hari bagi Iran untuk menyetujui kesepakatan nuklir baru. Jika negosiasi tetap buntu, AS mengancam akan melancarkan serangan militer dalam waktu dekat.
​Saat ini, kekuatan armada tempur AS yang telah bersiaga di wilayah Teluk tercatat sebagai yang terbesar sejak invasi Irak tahun 2003. Langkah ini dinilai sebagai gertakan serius untuk melunakkan sikap Teheran yang hingga kini masih menolak syarat-syarat berat dari Washington.
​Langkah agresif Trump dipicu oleh kekecewaan mendalam atas hasil pertemuan di Jenewa baru-baru ini. Pihak Iran menolak mentah-mentah seluruh butir tuntutan AS yang mencakup pelucutan total program nuklir, penghentian pengembangan rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok proxy di kawasan.

​Meskipun ada rencana putaran ketiga negosiasi dua pekan ke depan, banyak pihak skeptis rencana ini akan terlaksana jika eskalasi terus memburuk. Di balik layar, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terus mendesak Trump untuk segera mengambil tindakan militer. Bagi Israel, Iran adalah ancaman eksistensial yang tidak bisa ditoleransi.
​Namun, posisi Israel berada dalam dilema besar. Secara teritorial, Israel sangat kecil. Analis militer memperkirakan jika Iran meluncurkan 1.000 rudal balistik sekaligus, sistem pertahanan udara Israel akan kewalahan dan berpotensi menyebabkan kerusakan sepuluh kali lipat dibanding konflik sebelumnya.
​Di Washington, Trump menghadapi situasi rumit. Meskipun ia menggunakan retorika keras, Trump pada dasarnya enggan menyeret AS ke dalam perang besar yang melibatkan seluruh kawasan. Penasehat keamanan AS bahkan telah memberikan tinjauan final yang menyatakan bahwa peluang keberhasilan serangan militer ke Iran sangat tidak pasti.
​Muncul spekulasi bahwa Israel berusaha memanfaatkan “kartu as” melalui lobi AIPAC dan berkas-berkas kontroversial (seperti Epstein files) untuk menekan elit politik AS agar tetap mendukung opsi perang total.
​Menanggapi ancaman tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tetap pada pendiriannya yang anti-ekspansionisme. Iran baru saja menyelesaikan latihan militer di Selat Hormuz dan dijadwalkan akan menggelar latihan gabungan dengan Angkatan Laut Rusia.
​Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah memantau setiap pergerakan musuh selama 24 jam sehari. Khamenei pun telah memerintahkan serangan balasan langsung jika AS atau Israel melakukan manuver yang keliru.
​Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, baru-baru ini mengakui sulitnya mencapai kesepakatan dengan Teheran. Menurutnya, Iran mengambil keputusan berdasarkan keyakinan spiritual dan ideologi Islam yang kuat, berbeda dengan banyak pemimpin negara Muslim lain yang lebih pragmatis dalam hitungan untung-rugi geopolitik.
​Banyak pengamat melihat konflik ini bukan sekadar perang bilateral, melainkan bagian dari perang geopolitik global yang kental dengan sentimen agama. Koordinasi AS dengan negara-negara Eropa juga dipandang sebagai upaya menghancurkan kekuatan Islam yang berani berdiri tegak melawan dominasi Barat.
​Sejumlah negara telah mengeluarkan travel warning bagi warganya di Iran. Perdana Menteri Polandia kemarin secara resmi meminta warganya untuk segera meninggalkan Iran.
​Jika Trump benar-benar memilih opsi militer—baik serangan terbatas maupun perang besar—AS diprediksi akan menghadapi konsekuensi terburuk dalam sejarah modernnya, baik dari segi kerugian militer di luar negeri maupun gejolak sosial-politik di dalam negeri mereka sendiri.
Penulis : A.L
Editor : Tim JB

























