jurnalberita.co.id, (18/1/2026) – Ketegangan diplomatik di kawasan Arktik mencapai titik didih minggu ini setelah pembicaraan tingkat tinggi di Washington antara delegasi Denmark-Greenland dan pemerintah Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan. Menanggapi ancaman aneksasi yang terus diserukan oleh Presiden AS Donald Trump, Denmark beserta sejumlah sekutu NATO mulai mengerahkan personel militer dan kapal perang ke wilayah otonom tersebut.

​Pertemuan yang berlangsung pada pertengahan Januari 2026 di Washington, yang melibatkan Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, berakhir tanpa kompromi. Delegasi Denmark menegaskan bahwa Greenland “tidak untuk dijual“ dan mengecam upaya AS untuk mengubah status kedaulatan wilayah terseb
​Sebaliknya, Presiden Trump bersikeras bahwa penguasaan penuh atas Greenland adalah syarat mutlak bagi Keamanan Nasional AS. Trump berargumen bahwa Denmark tidak mampu melindungi pulau strategis tersebut dari potensi pendudukan Rusia atau China.

​Sebagai bentuk solidaritas terhadap Denmark, beberapa negara anggota NATO—termasuk Inggris, Jerman, Belanda, dan Finlandia—mulai mengirimkan kontingen kecil militer dan kapal patroli ke Greenland. Langkah ini bertujuan untuk:
- ​Memperkuat Pertahanan: Menegakkan kehadiran permanen NATO di bawah koordinasi Komando Arktik Denmark.
- ​Pesan Pencegahan: Mengirimkan sinyal kuat kepada Washington bahwa segala bentuk upaya paksaan terhadap sekutu NATO akan merusak aliansi pertahanan trans-atlantik.
​Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, menyatakan bahwa kehadiran militer ini akan bersifat lebih permanen sepanjang tahun 2026 untuk memastikan stabilitas di Lingkar Arktik.
​Menanggapi pengiriman pasukan sekutu tersebut, Presiden Trump melalui platform Truth Social mengumumkan rencana pengenaan tarif impor sebesar 10% hingga 25% terhadap negara-negara yang terlibat dalam pengiriman pasukan ke Greenland. Trump menyebut pengerahan pasukan tersebut sebagai langkah yang “tidak perlu” dan menuding para pemimpin Nordik meremehkan tantangan keamanan global.
Di balik retorika keamanan, terdapat kepentingan ekonomi strategis yang masif di Greenland:
- ​Mineral Langka (REE): Greenland menyimpan deposit rare earth elements senilai USD 300-500 miliar yang sangat vital bagi industri teknologi tinggi dan pertahanan AS (seperti jet tempur F-35).
- ​Jalur Pelayaran Baru: Mencairnya es di Arktik membuka rute pelayaran baru yang lebih singkat antara Asia dan Eropa. Penguasaan atas Greenland memberikan kendali penuh atas navigasi di wilayah utara ini.
​Di sisi lain, Moskow tidak tinggal diam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyebut situasi ini sebagai bukti perpecahan di dalam internal NATO. Rusia secara resmi menyatakan akan memperkuat kehadiran militernya di kawasan Arktik sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “peningkatan aktivitas NATO” di dekat perbatasan utara mereka.
Para pengamat politik internasional memperingatkan bahwa krisis ini merupakan ujian terbesar bagi integritas NATO sejak berakhirnya Perang Dingin, dengan risiko pecahnya aliansi jika Amerika Serikat terus menekan kedaulatan Denmark.
jPenulis : Tim Redaksi




























