INTERNASIONAL, jurnalberita.co.id – Situasi di Timur Tengah berada di ambang konflik terbuka setelah Amerika Serikat mengerahkan armada angkatan laut besar-besaran menuju perairan dekat Iran. Langkah agresif ini memicu reaksi keras dari Teheran, yang menyatakan kesiapan tempur total untuk menghadapi setiap potensi serangan.

​Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi pergerakan militer ini sebagai langkah peringatan keras terhadap Teheran. Dalam pernyataannya kepada media, Trump menegaskan bahwa Washington tidak ragu menggunakan kekuatan militernya jika tuntutan diplomasi tidak dipenuhi.
​”Kami memiliki armada besar yang sangat kuat sedang berlayar menuju Iran saat ini. Kami mengawasi mereka dengan sangat cermat. Saya telah membangun militer yang luar biasa, dan meskipun saya berharap tidak perlu menggunakannya, kami benar-benar siap. Iran harus tahu: tidak boleh ada senjata nuklir, dan hentikan kekerasan terhadap demonstran,” tegas Trump.
​Menanggapi kehadiran kapal-kapal perang AS, Wakil Komandan Politik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigade Jenderal Mohammad Akbarzadeh, memberikan peringatan balik yang tidak kalah tajam. Ia menekankan bahwa Iran tidak akan mundur satu milimeter pun dalam mempertahankan kedaulatannya.

BACA JUGA : Krisis Greenland 2026: NATO Hadapi Tekanan AS, Rusia Siapkan Kekuatan di Kutub Utara

​”Republik Islam tidak mencari perang, tetapi kami benar-benar siap untuk menghadapi musuh jika perang dipaksakan kepada kami,” ujar Akbarzadeh. Ia menambahkan bahwa Angkatan Laut Iran saat ini tengah mengawasi area Selat Hormuz secara ketat, baik di atas maupun di bawah permukaan air.
​”Respon kami akan Cepat, Tepat, dan Menghancurkan jika perang benar-benar terjadi. Musuh tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun dari konflik yang mereka mulai,” tegasnya.
​Pengerahan kekuatan ini dimulai secara bertahap sejak pertengahan Januari 2026 sebagai respon atas meningkatnya ketegangan nuklir dan domestik di Iran:
- ​19 Januari 2026: Gugus Tempur Kapal Induk (Carrier Strike Group 3) yang dipimpin oleh USS Abraham Lincoln (CVN-72) terdeteksi melewati Selat Malaka setelah dialihkan dari misi di Indo-Pasifik.
- ​23 Januari 2026: Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penempatan armada tersebut ke wilayah tanggung jawab CENTCOM di Timur Tengah sebagai langkah “berjaga-jaga.”
- ​26 Januari 2026: Armada besar yang terdiri dari kapal induk, kapal perusak kelas Arleigh Burke (dilengkapi rudal Tomahawk), dan aset udara B-52H resmi memasuki perairan Laut Arab, mendekati wilayah Teluk.
​Iran tidak tinggal diam menghadapi intimidasi tersebut. Militer Iran dilaporkan telah menyiagakan jaringan “kota rudal” bawah tanah yang menampung ratusan rudal jelajah jarak jauh seperti Qader 380 L. Selain itu, IRGC mengancam akan menutup Selat Hormuz jalur vital yang memasok 20% kebutuhan minyak dunia jika kepentingan mereka terganggu.
​Teheran juga mengeluarkan peringatan kepada negara-negara tetangga bahwa wilayah manapun yang digunakan sebagai pangkalan militer AS untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai target sah dan diperlakukan sebagai wilayah musuh.
Penulis : A.L
Editor : Tim Redaksi



























