Beranda / Teknologi / Kebuntuan Diplomasi: Perundingan Nuklir AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan

Kebuntuan Diplomasi: Perundingan Nuklir AS-Iran Gagal Capai Kesepakatan

iNTERNASIONAL, jurnalberita.co.id – Upaya diplomatik terbaru untuk meredakan ketegangan nuklir antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran berakhir dengan kebuntuan yang tajam. Laporan yang dikutip dari Axios dan Reuters mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan mengenai syarat-syarat dasar negosiasi, yang berujung pada penghentian mendadak pembicaraan di Oman.

​Titik balik kegagalan ini bermula dari tuntutan keras Teheran agar lokasi perundingan dipindahkan secara permanen ke Oman dan agenda pembicaraan dibatasi secara ketat hanya pada isu nuklir. Sebaliknya, pemerintahan Amerika Serikat bersikeras agar dialog dilakukan di Istanbul, Turki, dengan agenda yang lebih luas.

​AS menuntut agar negosiasi tidak hanya membahas pembatasan uranium, tetapi juga mencakup:

  1. ​Program Rudal Balistik Iran yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.
  2. ​Penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah.

​Menurut pejabat senior AS, pihak Washington memberikan pilihan tegas kepada delegasi Iran bahwa tawaran tersebut adalah “pilihan antara ini atau tidak sama sekali.” Merespons tekanan tersebut, pejabat Iran dilaporkan memilih untuk meninggalkan meja perundingan sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “tekanan luar biasa.”

​Pejabat AS kemudian mengakui bahwa mereka tidak memprediksi Iran akan benar-benar menolak tawaran tersebut dan pergi. Meskipun demikian, Washington menyatakan tetap membuka pintu negosiasi, dengan syarat Iran bersedia memasukkan isu rudal ke dalam agenda dan kembali ke lokasi yang disepakati semula.

BACA JUGA : Trump di Titik Kritis: Iran Ancam Perang Total Jika AS Salah Melangkah

​Menanggapi kegagalan ini, Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras kepada kepemimpinan di Teheran. Dalam pernyataannya, ia menegaskan tidak akan membiarkan Iran mengulur waktu.

​”Mereka [Iran] seharusnya sangat khawatir. Saya ingin kesepakatan terjadi, dan saya pikir mereka sangat membutuhkannya. Namun, kami tidak akan menegosiasikan kesepakatan yang lemah. Tidak ada senjata nuklir untuk Iran, dan itu termasuk rudal yang membawa mereka. Jika mereka tidak kembali ke meja dengan itikad baik, konsekuensinya akan sangat berat. Armada besar kami sudah bergerak ke arah sana.”

​Di sisi lain, pejabat tinggi Iran, yang mewakili garis keras Pemimpin Agung, menegaskan bahwa kedaulatan pertahanan mereka tidak dapat ditawar.

​”Program rudal balistik kami adalah hak pertahanan yang sah dan tidak akan pernah menjadi bagian dari negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat. Kemungkinan kami untuk mendiskusikan kemampuan pertahanan kami adalah nol. Kami datang untuk bicara soal nuklir, bukan untuk menyerahkan kedaulatan kami di bawah ancaman.”

​Kegagalan ini meningkatkan kekhawatiran global akan potensi eskalasi militer di kawasan Teluk. Saat ini, Amerika Serikat dilaporkan terus memperkuat kehadiran militer mereka di Timur Tengah sebagai langkah pencegahan, sementara Iran tetap pada posisi tidak akan kembali ke meja perundingan selama syarat “non-nuklir” tetap dipaksakan oleh Washington.

Laporan : Tim JB

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Category List