INTERNASIONAL, jurnalberita.co.id — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa mencapai titik didih baru. Presiden Donald Trump secara terbuka meluapkan kekecewaannya terhadap sejumlah negara Eropa, dengan Spanyol menjadi sasaran utama kemarahannya. Hal ini dipicu oleh keputusan tegas Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, yang melarang militer AS menggunakan pangkalan udara di wilayahnya untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
​Dalam pertemuan di Gedung Putih pada 3 Maret 2026, Presiden Trump mengonfirmasi bahwa Spanyol secara resmi menutup akses bagi pesawat-pesawat tempur AS di pangkalan Rota dan Morón untuk misi yang berkaitan dengan operasi militer terhadap Teheran.
​”Pemerintah Spanyol sangat mengerikan. Mereka menikmati perlindungan kita, tapi saat kita butuh kerja sama untuk menghancurkan rezim teroris Iran, mereka menutup pintu,” ujar Trump dengan nada tinggi di hadapan media.
​PM Sánchez memberikan pembelaan melalui pernyataan resmi (declaración institucional), menegaskan bahwa Spanyol tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan untuk agresi yang dianggap melanggar hukum internasional dan membahayakan perdamaian global.

​Sebagai aksi balasan yang drastis, Trump telah menginstruksikan Menteri Keuangan Scott Bessent untuk segera menyiapkan draf keputusan guna memutus seluruh transaksi bisnis dengan Madrid. Trump mengancam akan menerapkan embargo perdagangan penuh, yang mencakup tarif besar-besaran hingga penghentian total impor produk unggulan Spanyol.
- ​Instruksi Trump: “Saya sudah bilang kepada Menteri Keuangan, hentikan semuanya. Kita tidak akan berbisnis dengan mereka mulai hari ini.”
- ​Sentimen NATO: Trump juga mengungkit kegagalan Spanyol memenuhi target belanja pertahanan NATO, yang menurutnya menjadi bukti ketidakseriusan Madrid sebagai sekutu.
​Di tengah kemarahan ini, Trump memberikan pujian kepada Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang dianggap lebih kooperatif dalam dinamika keamanan di Timur Tengah. Merz, yang baru menjabat tahun lalu, tampak berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan hubungan dengan Washington sambil menjaga stabilitas di blok Eropa.
​Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, terus menyerukan agar semua pihak menahan diri. Namun, ancaman ekonomi dari Washington diprediksi akan melumpuhkan pasar tunggal Eropa jika negara-negara lain mengikuti jejak Spanyol.
​Rusia dan China telah memperingatkan bahwa setiap serangan ke Iran akan membawa “konsekuensi bencana global.” Para analis melihat penolakan Spanyol sebagai upaya Eropa untuk melindungi diri dari potensi serangan balasan dari aliansi Iran-Rusia di masa depan, meski hal itu harus dibayar mahal dengan sanksi ekonomi dari sekutu terdekat mereka sendiri, Amerika Serikat.
Penulis : A.L


























