INTERNASIONAL, jurnalberita.co.id – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Iran menegaskan posisinya dalam menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk. Bukan melalui adu kekuatan konvensional secara terbuka, Iran dilaporkan mengandalkan kombinasi strategi geografis dan perang asimetris sebagai “kunci” untuk meredam dominasi militer Washington.
​Salah satu poin krusial dalam strategi pertahanan Iran adalah kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling vital di dunia. Iran mengancam akan melumpuhkan aliran energi global jika kedaulatannya terganggu.

​Laporan menyebutkan bahwa penempatan ranjau laut di selat ini menjadi ancaman nyata yang dapat memukul ekonomi AS dan sekutunya secara signifikan. Strategi ini dianggap sebagai upaya Iran untuk melumpuhkan “mesin perang” AS melalui tekanan ekonomi global.

BACA JUGA : Ketegangan Memuncak: Armada Tempur AS Merapat ke Teluk, Iran Siaga Penuh di Selat Hormuz
​Menyadari adanya kesenjangan teknologi dan kekuatan militer konvensional, Teheran menerapkan strategi perang asimetris. Strategi ini mencakup beberapa pilar utama:
- ​Penggunaan Proksi: Melibatkan jaringan kelompok seperti Hizbullah, Houthi, dan Hamas.
- ​Persenjataan: Pemanfaatan rudal balistik jarak jauh yang mampu menjangkau aset militer AS di Timur Tengah, termasuk kapal induk.
- ​Penguasaan Medan: Memanfaatkan kondisi geografis kawasan untuk menyulitkan pergerakan pasukan lawan.
​Bagi pejabat Iran, kemenangan tidak hanya diukur dari hasil di medan perang. Mereka memandang ketahanan ideologi dan kedaulatan bangsa sebagai aspek utama. Tujuannya adalah menjebak Washington dalam konflik yang berkepanjangan (war of attrition) yang sulit dimenangkan secara politik maupun strategis.
​”Kunci tersebut bukanlah senjata tunggal, melainkan kombinasi strategi yang dirancang untuk mencegah AS mencapai kemenangan cepat atau dengan biaya rendah,” sebagaimana dikutip dari analisis strategi pertahanan kawasan tersebut.
​Dengan taktik ini, Iran berusaha menciptakan efek deterensi (penggetar) yang membuat biaya konflik militer menjadi terlalu mahal bagi Amerika Serikat, baik dari segi finansial maupun stabilitas politik internasional.
Penulis : A.L
Editor : Tim Jurnal



























